MEMBER LOGIN

USERNAME :
PASSWORD :

SEARCH

REPORT & REFERENCE

[archives]

EVENT KARSA

02 Juli 2008, Lokakarya II "Peningkatan Kinerja ORNOP Berbasis Ketidakpuasan Pelanggan" [ details ]
29 Mei 2008, Diskusi Mengenal "Credit Union" [ details ]
03 Mei 2008, Diskusi "Debat Klasik Agrarian Question" bersama Gunawan Wiradi [ details ]
03 April 2008, Diskusi Bersama Ex-Panitia LR Sleman [ details ]
[archives]
Lingkar Belajar Agraria (LIBRA): Kebangkitan Studi Agraria dan Agenda Reforma Agraria di Awal Abad Dua Puluh Satu.
11 November 2008
Lingkar belajar ini dibentuk untuk mempelajari argumen-argumen dan kondisi-kondisi yang membangkitkan agenda reforma agraria dan gerakan sosial pedesaaan. Setidaknya ada empat kondisi yang melatarbelakangi. Dewasa ini, akses pada tanah dan agenda reforma agraria, yang ditujukan mengubah struktur akses atas tanah, telah kembali menjadi pokok bahasan terdepan dan mungkin menjadi inti dari agenda pembangunan dari berbagai badan-badan internasional dan berbagai negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Untuk pemahaman permulaan, hal itu dapat ditelusuri melalui, Pertama, kegagalan global teori dan praktek neoliberalisme sepanjang 25 tahun, semenjak dilancarkannya apa yang diistilahkan dengan SAP (Structural Adjustment Program) atau Program Penyesuaian Struktural, yang diberlakukan secara menyeluruh dalam suatu negara maupun yang khusus pada sektor pertanian.  Kedua, sepanjang periode yang sama, bangkitnya kembali suatu generasi baru gerakan-gerakan sosial pedesaan. Ketiga, adalah suatu faktor kesempatan politik yang terbuka, yang memungkinkan diangkutnya agenda akses atas tanah ke dalam arena-arena pembuatan kebijakan publik di tingkat lokal, nasional dan global.

Perubahan struktur kesempatan politik memberi sinyal dan peluang bagi aksi kolektif tertentu. Tentunya, tiap-tiap aksi kolektif tertentu niscaya menghadapi struktur kesempatan politik yang tertentu pula. Adalah tidak mungkin menggeneralisir struktur kesempatan politik yang dihadapi setiap aksi dari gerakan tertentu. Namun, memang ada perubahan politik utama yang dihadapi oleh masing-masing gerakan pedesaan. Secara umum pada skala nasional, kesempatan politik bagi aksi-aksi kolektif dan perjalanan gerakan sosial dapat dibuka oleh tumbangnya rejim apartheid, transisi dari rejim otoritarian atau komunis, dan adanya berbagai partai politik yang membutuhkan legitimasi dan dukungan mayoritas penduduk pedesaan. Sedangkan pada tingkat global, kesempatan politik itu dapat dibuka melalui perubahan kepemimpinan, kebijakan, orientasi teori dan agenda pembangunan badan-badan internasional.

Dua hasil utama yang diniatkan dicapai adalah: Pertama, Peserta memperoleh suatu basis pengetahuan permulaan untuk memahami anatomi, argumen dan kondisi-kondisi yang memberi ruang hidup dan pada agenda land reform di badan-badan pembangunan internasional, negara-negara, dan organisasi-organisasi non-pemerintah dan gerakan sosial di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Kedua, Peserta mempunyai tindak lanjut untuk membentuk suatu tim kajian sementara yang menghasilkan suatu draft buku yang berisikan (a) ringkasan dan pandangan kritis atas naskah-naskah akademik terbaru (buku dan artikel-artikel di jurnal ilmiah) perihal kebangkitan agenda land reform dan gerakan sosial pedesaan; dan (b) uraian analitis perihal status dan signifikansi agenda land reform dan, pedoman bagi aktivis organisasi rakyat dan “organisasi non pemerintah” untuk memahami, memantau dan menyikapi pelaksanaan proyek-proyek pertanahan Bank Dunia tersebut.



Tulis KomentarLihat KomentarKirim ke TemanArsip Berita