MEMBER LOGIN

USERNAME :
PASSWORD :

SEARCH

REPORT & REFERENCE

[archives]

EVENT KARSA

02 Juli 2008, Lokakarya II "Peningkatan Kinerja ORNOP Berbasis Ketidakpuasan Pelanggan" [ details ]
29 Mei 2008, Diskusi Mengenal "Credit Union" [ details ]
03 Mei 2008, Diskusi "Debat Klasik Agrarian Question" bersama Gunawan Wiradi [ details ]
03 April 2008, Diskusi Bersama Ex-Panitia LR Sleman [ details ]
[archives]
"Ketidakpuasan untuk Perubahan"
10 Juni 2008
Jika di dalam dunia bisnis ada ungkapan "pembeli adalah raja", maka seharusnya demikian pulalah kesadaran yang melandasi setiap instansi publik dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat. Masyarakat sebagai pihak penerima manfaat harus mendapatkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya.

Dalam posisinya sebagai lembaga publik, ORNOP harus bisa bekerja, berkarya, sesuai tuntutan publik yang berkaitan. Namun di sisi lain, tidak sedikit kita juga mendengar situasi yang berseberangan dari tujuan ORNOP semula. Misalnya kita pernah mendengar adanya korupsi dana KUT yang melibatkan ORNOP lokal, dst.

Hal ini kemudian melahirkan banyak inisiatif yang dilakukan untuk memperbaiki kinerja ORNOP. Bagaimana mendorong mekanisme transparansi dan akuntabilitas ORNOP. Salah satunya pernah diselenggarakan oleh TIFA melalui program TANGO (Transperency and Accountability of NGO), yakni sebuah alat untuk melihat bagaimana ORNOP bisa bekerja sesuai dengan prinsip transparansi sebagai lembaga publik yang baik.

Namun KARSA melihat bahwa upaya-upaya untuk memperbaiki aspek akuntabilitas dan transparansi yang sudah ditempun itu masih menyisakan beberapa pertanyaan. Alat-alat yang ada lebih banyak dikembangkan berdasarkan kebutuhan bukan dari pengguna ORNOP, tetapi lebih banyak berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pihak lain yang berkepentingan atas akuntabilitas itu. Alat yang disediakan pengembangannya lebih pada lembaga internal ORNOP sendiri, dan kepentingan donor untuk bekerja sama. Metode-metode tersebut belum berhubungan langsung dengan si pihak penerima manfaat (demand side) melainkan pada supply side.

Mengingat pentingnya kedua hal (supply side maupun demand side) ini, KARSA sedang mengembangkan sebuah alat kerja yang diberi nama "Peningkatan Kinerja ORNOP Berbasis Ketidakpuasan Pengguna". Ada sejumlah prinsip dasar dalam pengembangan alat kerja ini, diantaranya adalah:
  • Model ini disusun dengan suatu posisi berpihak kepada pengguna karena ada asumsi bahwa tanpa mereka kita ini sebenarnya tidak relevan hadir
  • Model ini juga tidak ada gunanya kalau tidak disertai komitmen untuk perubahan itu sendiri (relasi antara organisasi kita dengan pengguna)
  • Didasari oleh kebutuhan lembaga kita sendiri dan atas kesepakatan bersama. Oleh sebab itu kesepakatan-kesepakatan awal menjadi sangat penting, dan akan dilakukan penilaian sendiri yang bisa dilakukan tanpa pihak-pihak lain
  • Model ini dikembangkan berdasarkan metode survey, sehingga akan lebih mudah digunakan tanpa bantuan pihak lain. Karena banyak alat yang tersedia sekarang ini canggih dan rumit, sehingga keteteran apabila digunakan di level OR
  • Karena berbasis pada survey maka penting untuk memikirkan kerangka sampling yang digunakan
  • Dikembangkan secara partisipatif, sejak awal telah melibatkan pihak-pihak pengguna layanan
  • Model ini bukan alat monev on the spot, sehingga kita bisa menggunakannya sebagai alat kerja baik antara NGO dan Donor, maupun NGO dan masyarakat dampingan
Saat ini KARSA bekerja sama dengan Yayasan TIFA dan YAPPIKA , sedang menyelesaikan proses analisis dan perumusan metode ini menjadi sebuah modul, setelah sebelumnya dilakukan Lokakarya I yang menghadirkan Yayasan TIFA dan YAPPIKA (sebagai supply side) dan sejumlah grantee masing-masing yayasan (sebagai demand side) untuk merumuskan kerangka survey secara bersama-sama.

Pada awal Juli 2008 nanti, mereka akan dipertemukan kembali dalam Lokakarya II untuk membahas hasil survey, yang dilengkapi dengan proses wawancara mendalam maupun temuan-temuan lain di lapangan.

Ke depan, dengan berangkat dari ketidakpuasan, diharapkan ORNOP maupun instansi publik lainnya mau dan mampu lebih peka melakukan evaluasi dan perubahan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja lembaganya masing-masing.
Tulis KomentarLihat KomentarKirim ke TemanArsip Berita